Mendikbud Nadiem Makarim Batalkan Pembelajaran Tatap Muka Semester Genap TA 2020/2021?

Assalamualaikum Warr ... Wabb ... Bapak / Ibu yang berbahagia dimanapun berada, salam hangat selalu untuk kita semua, berikut admin bagikan informasi mengenai Mendikbud Nadiem Makarim Batalkan Pembelajaran Tatap Muka Semester Genap TA 2020/2021?. Simak informasi selengkapnya dibawah ini ....

Mendikbud Nadiem Makarim Batalkan Pembelajaran Tatap Muka Semester Genap TA 2020/2021?

Izin satgas covid sudah dikantongi. Izin periksa sudah terisi dan berulang di cek kembali. Di tembok-tembok kelas dan sudut-sudut sekolah, protokol spanduk kesehatan sudah terpasang dengan rapi. Penyemprotan disinfektan pun sudah dilakukan untuk yang kesekian kali. Masker dan faceshield sudah lama terbagi. Handsanitizer dan sarana cuci tangan siap menanti. Besok, 4 Januari 2021, diharapkan anak-anak sudah berbaris rapi. Menerapkan jaga jarak memasuki gerbang sekolah di saat pandemi. Tapi semua itu masih sebatas mimpi!

Itulah sekilas gambaran persiapan sekolah menyambut pembelajaran tatap muka semester genap Tahun Ajaran 2020/2021, sesuai pengumuman Mendikbud Nadiem Makarim, tanggal 20 November 2020. 

Saat itu, Mas Menteri menyampaikan bahwa sekolah boleh melaksanakan Pembelajaran Tatap Muka (PTM), namun harus tetap mengutamakan kesehatan dan keselamatan siswa beserta keluarga dan guru di sekolah. Selanjutnya, izin penyelenggaraan PTM kebijakanpemerintah daerah masing-masing. 

Namun, korban strain baru virus corona, yang konon lebih gampang menular dan cepat menyebar, serta masih tingginya angka positif. 

Melonjaknya kasus positif korona di beberapa wilayah, telah membuyarkan semua rencana pembelajaran tatap muka di sekolah, di semester genap Ditambah TA 2020/2021.   

Pembelajaran Jarak Jauh

Ya, lebih dari 9 bulan berlalu, pandemi Covid-19 menghantui negeri ini. Anak-anak belajar di rumah. Sekolah pun jadi sepi. Hampir semua sekolah di tanah air menerapkan belajar berani. Istilah lain dari Belajar Dari Rumah (BDR) dan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).  

Maka, sejak saat itu tak ada lagi hubungan tatap muka antara guru dengan peserta didik. Semuanya bergerak dan dapat diandalkan di dunia maya. Sekolah pun berlomba-lomba merancang program yang efektif dan efisien untuk pembelajaran jarak jauh ini. Memanfaatkan teknologi informasi dan jaringan internet sebagai sarana utama transfer informasi.  

Guru pun wajib mendesain ulang proses pembelajaran di kelasnya. Baik dari segi konten materi pembelajaran, interaksi strategi dengan siswa, pilihan aplikasi melalui PC, sampai layanannya. Maka, email, whatsapp, google classroom, google meet, zoom banyak digunakan oleh para guru untuk mengembangkan pembelajarannya. Ini sendiri-mata karena mereka ingin masa pandemi para siswa bisa mengikuti pembelajaran dengan baik.  

Namun, semua merasakan bahwa pembelajaran jarak jauh (PJJ) sering ditemukan banyak. Tidak hanya masalah sinyal internet! PJJ hanya efektif dilakukan untuk kalangan mahasiswa dan tingkat sekolah menengah (SMA dan SMK). Sangat tidak efektif bahkan tidak bisa dilakukan untuk tingkat pendidikan dasar.

Mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Taman Kanak-Kanak (TK), Sekolah Dasar (SD) bahkan sampai setingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). 

Sudah banyak belajar di media sosial betapa susahnya melaksanakan pembelajaran di tingkat pendidikan dasar ini. Banyak keluhan, marah-marah dan stres! Bahkan ada berita, lantaran belajar berani yang terlalu lama, maka pernikahan anak usia dini di beberapa daerah meningkat. Lha, kan .....

Jika kita masuk lebih dalam lagi, PJJ untuk tingkat sekolah menengah pun tak lepas dari masalah. Pembelajaran yang mengandalkan pengelolaan online atau tatap muka virtual, banyak mengalami masalah untuk mata pelajaran Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, Ekonomi dan Geografi. Bukan berarti mata pelajaran lain tak ada jaminan. 

Artinya, mata pelajaran yang berkaitan tersebut adalah mata pelajaran "sulit", akan semakin sulit jika proses pembelajaran dilaksanakan hanya secara berani. Nggak percaya, jadilah murid dulu ... he he he. 

Untuk mengatasi beberapa masalah yang berani, maka beberapa guru menempuh pembelajaran memikat. Pemberlajaran di dunia nyata, tidak bertemu di dunia maya. 

Bentuknya, beberapa guru-guru sekolah yang melakukan pembelajaran melalui pengiriman materi belajar di tempat. Turun ke lapangan. Ke kampung-kampung.  

Bahkan tidak sekedar mengirim tugas atau mengambil tugas, beberapa guru nekad dengan protokol kesehatan ketat, bertemu siswa-siswinya dalam jumlah terbatas, di balai dusun / balai desa atau tempat lainnya yang disepakati hanya mengatasi masalah pembelajaran yang berani yang ada.   

SKB 4 Menteri

Menyikapi sekolah Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang demikian kompleks, pemerintah pusat pun mengambil langkah. 

Maka, melalui Nadiem Makarim, pemerintah mengumumkan Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama (Menag), Menteri Kesehatan (Menkes), dan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran pada Semester Genap Tahun Ajaran dan Tahun Akademik 2020/2021 di Masa Pandemi Covid-19. Pengumuman pemerintah ini digelar secara virtual live di Youtube tanggal 20 November 2020. 

Pokok dari SKB tersebut adalah pemerintah memberikan penguatan peran pemerintah daerah / kantor wilayah (kanwil) / kantor Kementerian Agama (Kemenag) sebagai pihak yang paling melihat dan memahami kondisi, kebutuhan, dan kapasitas daerahnya. 

Penyesuaian kebijakan ini diambil sesuai hasil evaluasi bersama kementerian dan lembaga terkait serta masukan dari para kepala daerah, serta berbagai pemangku kepentingan bidang pendidikan yang menyatakan bahwa walaupun pembelajaran jarak jauh (PJJ) sudah terlaksana dengan baik, tetapi terlalu lama tidak melakukan pembelajaran tatap muka akan berdampak negatif bagi peserta didik. Kendala tumbuh kembang anak serta tekanan psikososial dan kekerasan terhadap anak yang tidak mempertimbangkan pertimbangan pertimbangan.

Prioritas Utama Kebijakan Pendidikan

Pemberian izin pembelajaran tatap muka dapat dilakukan secara serentak dalam satu wilayah kabupaten / kota atau secara bertahap per wilayah kecamatan dan / atau desa / kelurahan. 

"Pengambilan kebijakan pada sektor pendidikan harus melalui pertimbangan yang holistik dan selaras dengan pengambilan kebijakan pada sektor lain di daerah," terang Mendikbud, Nadiem Anwar Makarim. 

Lebih lanjut, Mendikbud menyatakan prinsip kebijakan pendidikan di masa pandemi Covid-19 tidak berubah. Kesehatan dan keselamatan peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan, keluarga, dan masyarakat tetap merupakan prioritas utama.

Selain itu, faktor-faktor penting yang perlu jadi pertimbangan pemda dalam memberikan izin pembelajaran tatap muka seperti: tingkat risiko penyebaran Covid-19 di wilayahnya, kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan, kesiapan satuan pendidikan dalam melaksanakan pembelajaran tatap muka sesuai daftar periksa. Selanjutnya, akses terhadap sumber belajar dari rumah, dan kondisi psikososial peserta didik.

Pertimbangan lainnya: fasilitas layanan pendidikan bagi anak yang tua bekerja di luar rumah, akses transportasi yang aman dari dan ke satuan pendidikan, tempat tinggal warga satuan pendidikan, mobilitas warga antar kabupaten / kota, kecamatan, dan kelurahan / desa, serta kondisi geografis daerah

Persiapan Kembali Belajar

Menindaklanjuti SKB 4 tentang rencana pembelajaran tatap muka semester genap, maka sekolah pun segera siapkan diri. Mulai mendatangkan orangtua untuk rencana pembelajaran tatap muka dengan segala strategi dan risiko yang harus dimiliki. Termasuk surat pernyataan putra putrinya kembali ke sekolah.

Penyemprotan disinfektan pun segera dimulai. Diseluruh penjuru, lorong-lorong dan seluruh kelas termasuk kantor dan laboratorium. Sarana-sarana sekolah bersama. Siapkan titik-titik tempat cuci tangan sebanyak mungkin. Tak lupa dilengkapi dengan himbauan untuk sesering mungkin cuci tangan dengan sabun yang sudah disiapkan.

Tak kalah pentingnya adalah menyusun Standar Prosedur Opersional (SOP). Sebelum berangkat ke sekolah pun sudah ada SOP nya. Misalnya sekolah harus memakai masker. Membawa Faceshield. Termasuk membawa handsanitizer pribadi. Demi menguranngi interaksi dan kerumuman, siswa wajib membawa makanan bekal dari rumah, karena kantin sekolah tidak melayani penjualanan makanan dan jajanan.

Begitu siswa datang di sekolah juga wajib menerapkan SOP. Sejak parkir kendaraan sampai tata cara masuk gerbang sekolah. Termasuk tatacara ketemu guru dan teman sebaya. Misalnya, setelah cuci tangan menuju ke petugas pengukur suhu.Jika suhu badan normal, boleh masuk ke SOP berikutnya. Jika suhu di atas normal wajib istirahat untuk membayar lagi nanti. Ketemu guru dan teman sebaya cukup menyapa dengan salam tanpa jabat tangan!

Bagi siswa yang lolos pemeriksaan suhu, yang masuk ke halaman sekolah untuk sidik jari dengan tetap menerapkan jarak. Setelah itu langsung menuju kelas masing-masing, setelah sebelumnya setiap tangan diolesi oleh petugas oleh petugas. Pesereta didik masuk kelas dan bebas meja sesuai nomor presensi masing-masing. Satu kelas sudah di-setting maksimal 10-15 siswa dan mejanya bernomor. Jadi siswa duduknya tidak boleh pindah pindah. Itu salah satu contoh standar operasional prosedur (SOP) masuk sekolah dan masuk kelas. 

SOP pembelajaran, pembinaan jadual pembelajaran dalam sehari hanya 2-3 mata pelajaran. Rencana tatap muka diatur secara silang, sehingga setiap kelas riil (kelas asli) mendapat materi yang sama walau saat pembelajaran dipecah jadi dua. Pembelajaran dilakukan tanpa istirahat keluar kelas. Siswa cukup menikmati makanan bekal di meja masing-masing tanpa perlu kesana kemari saat jeda.

Jadi intinya, kembali ke sekolah wajib membentuk Tim Satgas Covid Sekolah. Menyusun SOP sedetil-detilnya. Menghadirkan ke sekolah untuk sosialisasi. Menyipakan semua sarana penunjang, termasuk banner himbaun. Maka langkah selanjutnya mengajukan surat ke Satgas Covid Kecamatan dengan tembusan ke Kapolsek, Danramil serta Puskesmas setempat. Tak lupa tembusan juga ke Cabdng Dinas Pendidikan / Dinas Pendidikan dan Satgas Covid di tingkat kabupaten / kota. 

Begitu izin sudah diajukan, maka satgas yang dibujuk dengan seluruh perangkatnya akan meluncur ke sekolah untuk survei dan pengecekan kesiapan sekolah. Jika memenuhi syarat, barulah izin pembelajaran tatap muka dikeluarkan. 

Beberapa langkah singkat persiapan kembali belajar. Tapi semuanya buyar lantaran pandemi masih belum berlalu. Sepenting apapun itu, kesehatan dan keselamatan adalah nomor satu. Maka saya sepakat, agar Nadiem Makarin segera membatalkan izin pembelajaran tatap muka. Tidak ada situasi agar situasi dan kondisi kembali membaik. Tetapo emangat belajar berani. Lewat TV, HP dan streaming. Semoga wabah cepat berlalu. 

Sumnber;https://www.kompasiana.com/www.teguhhariawan/5ff108bfd541df259b06cccf/nadiem-makarim-bterbuat-pembelajaran-tatap-muka-semester-genap-ta-2020-2021?page=4

Demikian sekilas kabar terkini, terpopuler, terpercaya yang admin kutip dari berbagai sumber terpercaya, semoga kabar atau info yang admin bagikan ini dapat memberikan manfaat dan memnambah wawasan serta pengetahuan baru bagi pembaca yang budiman. Wassalamualaikum ...

0 Response to "Mendikbud Nadiem Makarim Batalkan Pembelajaran Tatap Muka Semester Genap TA 2020/2021?"

Posting Komentar