Guru Memang Bukan Orang Hebat, Tapi Semua Orang Hebat Berkat Jasa Guru

Assalamualaikum Warr ... Wabb ... Bapak / Ibu yang berbahagia dimanapun berada, salam hangat selalu untuk kita semua, berikut admin bagikan informasi mengenai Guru Memang Bukan Orang Hebat, Tapi Semua Orang Hebat Berkat Jasa Guru. Simak informasi selengkapnya dibawah ini ....

Guru Memang Bukan Orang Hebat, Tapi Semua Orang Hebat Berkat Jasa Guru
ilustrasi.

“Bila melihat alumni dari suatu sekolah menjadi orang sukses dan hebat, hal tidak terlepas dari peran guru yang luar biasa. Itu benar-benar siswa yang hebat ada guru yang hebat juga ”.

"Jadilah guru yang teladan. Saya yakin guru yang ada di sini adalah guru-guru yang hebat dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan bagi siswa,"

(Baca Juga: Kabar Gembira: Mendikbud Pastikan Semua Guru Honorer Di Angkat Menjadi PPPK Tanpa Terkecuali

Tugas guru sebagai suatu profesi, menuntut guru untuk mengembangkan profesionalitas diri sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Mendidik, mengajar, dan melatih anak didik adalah tugas guru sebagai suatu profesi. Tugas guru sebagai pendidik, asah dan mengembangkan nilai-nilai hidup kepada anak didik. Tugas guru sebagai pengajar berarti dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada anak didik. Tugas guru sebagai pelatih berarti mengembangkan ketrampilan dan menerapakannya dalam kehidupan demi masa depan anak didik. 

Guru juga mempunyai kemampuan, keahlian atau sering disebut dengan kompetinsi profesional. Kompetensi masalah profesional yang dimaksud adalah kemampuan guru untuk menguasai akademik yang sangat berkaitan dengan pelaksanaan proses belajar mengajar, sehingga kompetensi ini mutlak dimiliki guru dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik dan pengajar.

(Baca Juga: Resmi Dibuka Lowongan Rekrutmen Guru Honorer PPPK 2021, Ini Cara dan Syarat Daftarnya

Guru memiliki peran yang sangat penting dan mulia di tengah masyarakat. Ungkapan bahwa guru adalah “pahlawan tanpa tanda jasa” mengekspresikan pentingnya peran tersebut. Guru seperti pahlawan yang menyelamatkan kehidupan banyak orang. Peran guru yang dipandang mulia oleh masyarakat juga dari hasil akronim kata “guru” dalam bahasa Jawa sebagai digugu lan ditiru. 

“Digugu” bearti hal-hal yang dikatakanyalayak tidak percaya oleh orang lain dan “ditiru” bearti hal-hal yang layak dijadikan teladan.

(Baca Juga: Kabar Gembira: PPPK akan Mendapat Gaji Sama dengan ASN, Tunjangan Kinerja Hingga Rp 4 Juta

Guru memiliki peran yang sangat penting dalam melaksanakan pembelajaran bersama siswa. Keadaan tersebut disimpan guru yang tidak dapat menyimpan dengan media apapun, sehingga keberadaannya sebagai ujung tombak pembelajaran harus tetap ada. Beberapa fungsi guru sesuai dengan tugasnya selaku pengajar adalah guru sebagai informator, organisator, motivator, pengarah, inisiator, transmiter, fasilitator dan mediator. Mutu pembelajaran merupakan kemampuan yang dimiliki oleh sekolah dalam penyelenggaraan pembelajaran secara efektif dan efisien, sehingga menghasilkan manfaat yang bernilai tinggi bagi yang tujuan yang telah ditentukan.

Komponen-komponen peningkatan mutu yang ikut andil dalam pelaksanannya adalah penampilan guru, penguasaan materi, penggunaan metode mengajar, pendayagunaan alat pendidikan, penyelengaraan pembelajaran dan evaluasi pelaksanaan kurikuler dan ekstra-kurikuler. 

(Baca Juga: Cek Sekarang Juga! SK Insentif/BLT Sudah Terbit, Siap-siap Guru dan Tenaga Honorer Bakal Terima BLT 2,4 Juta Selama 3 Bulan

guru dalam meningkatkan pembelajaran berhubungan dengan masih adanya guru yang memiliki kualifikasi pendidikan, sikap profesionalisme guru dalam melaksanakan tugas yang rendah, persiapan guru untuk melaksanakan yang kurang mantap, masih sering terdapatnya penilaian nilai siswa yang jauh dalam setiap mata pelajaran, masih terdapat siswa yang memiliki nilai merah untuk mata pelajaran tertentu, yang memanfaatkan media dan sumber belajar dan masih rendahnya sikap inovatif serta kreativitas mengajar guru. Untuk mencapai mutu pembelajaran terlebih dahulu, guru harus membekali diri dengan suatu kompetensi dalam bidang bidang baik yang dilakukan oleh diri sendiri maupun bantuan kepala sekolah.

Kegiatan pembekalan tersebut dilakukan secara kontinyu seiring dengan dan pencatatan kebutuhan dunia pendidikan, sehingga pada akhirnya akan membentuk sikap lebih profesional dari guru itu sendiri. Agar pembekalan lebih efektif langkah yang perlu dilakukan adalah dengan terlebih dahulu menganalisis permasalahan-permasalahan yang permasalahan guru dan kebutuhannya sehubungan dengan pelaksanaan tugas mengajar di sekolah.

(Baca Juga: Kabar Gembira: SAH ! Satu juta Guru Honorer Resmi Diangkat Jadi PPPK

Filosofi Ki Hajar Dewantara dalam era pendidikan baru saat ini tetap relevan dengan mengedepankan guru sebagai aktor paling hebat dalam proses belajar. (1) Tut wuri handayani. yaitu dari belakang memberikan inspirasi dan arahan. Guru berperan sebagai pendorong atau motivator, selain itu berperan sebagai pengarah, pembimbing yang tidak boleh membiarkan anak didik melakukan hal yang tidak sesuai dengan tujuan proses belajar.

Sebenarnya, peran guru sebagai mitra juga tersirat dalam asas tut wuri handayani, karena ketika guru menjalankan fungsi sebagai pembimbing dan pendorong maka guru tidak menempatkan dirinya pada hirerarki teratas dalam proses belajar, guru bukan satu-satunya sumber belajar. 

(Baca Juga: Bantuan Subsidi Gaji Guru Honorer 1,8 Juta akan Dipotong 5-6 Persen

(2) Ing madya mangun karsa, artinya ditengah menciptakan peluang untuk berprakarsa. Saat ini semakin meningkatkan peran dan fungsi guru sebagai mitra dan fasilitator untuk menciptakan peluang bagi peserta didik untuk menjadi tujuan dari proses belajar, karena prinsipnya belajar itu produktif. (3) Ing ngarsa dinyanyikan tulada, artinya di depan memberi teladan. Asas ini menekankan peran guru sebagai teladan “guru di gugu”, dimodeli anak didiknya. Para guru memahami betul bahwa modeling atau keteladanan merupakan cara yang ampuh dalam mengubah perilaku, selain pembiasaan dan disiplin.

Fakta ini menunjukkan bahwa diantara berbagai masukan yang menentukan mutu pendidikan (ini ditunjukkan dengan prestasi akademik anak didik) lebih dari sepertiganya ditentukan oleh peran guru. Betapa guru mulianya! Kita menyadari bahwa di tangan para guru, putra-putri terbaik bangsa ini untuk melakukan perubahan penting bagi kelangsungan hidup bangsa, saat ini maupun di masa yang akan datang. Namun, untuk memegang peran perubahan itu, guru haruslah melakukan perubahan terlebih dahulu dalam dirinya. Motivasi untuk berubah harus datang dari dalam diri guru itu sendiri.

(Baca Juga: Angin Segar Bagi Guru Honorer, Membuat Jauh Lebih Tenang Menjalankan Tugas

With prinsip ”guru harus memberi (untuk berbagi) terlebih dahulu agar ia dapat maju dan berkembang (to grow)”, maka guru tidak boleh menampilkan dirinya pada posisi pasif (penerima), tetapi harus pada posisi aktif (memberi dan berbagi untuk berkembang bersama) . Jika menjadi guru merupakan pilihan pribadi, maka guru harus benar-benar hidup dengan pilihannya tersebut. Maka dia adalah guru hebat.

Para siswa tidak menguasai pelajaran bukan karena mereka tidak pintar, melainkan karena motivasi dalam diri mereka untuk belajar. Tidak ada manusia yang berkembang di dunia keadaan bodoh, namun bagaimana cara memperlakukan dunia dengan benar yang membuat mereka terlihat bodoh. Thomas Alva Edison yang hiperaktif dan ramah oleh gurunya ternyata mampu membuka mata dunia dengan penemuan bohlamnya, atau Isaac Newton, Albert Einstein, Ludwig Van Beethoven dan orang-orang terkenal yang disebut "BODOH".

Sumnber: Kompasiana

Demikian sekilas kabar terkini, terpopuler, terpercaya yang admin kutip dari berbagai sumber terpercaya, semoga kabar atau info yang admin bagikan ini dapat memberikan manfaat dan memnambah wawasan serta pengetahuan baru bagi pembaca yang budiman. Wassalamualaikum ...

0 Response to "Guru Memang Bukan Orang Hebat, Tapi Semua Orang Hebat Berkat Jasa Guru"

Posting Komentar